Home / Nasional / Hang Tuah Peduli Alam (HAPAL) 2026: Aksi Nyata Menjaga Laut Bersama

Hang Tuah Peduli Alam (HAPAL) 2026: Aksi Nyata Menjaga Laut Bersama

Surabaya, 20 Januari 2026 – Biro Kemahasiswaan, Kemaritiman dan Alumni (BKKA) bersama Hang Tuah Peduli Alam (HAPAL) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Hang Tuah (UHT) menggelar kegiatan penanaman mangrove di Kebun Raya Mangrove Wonorejo, Surabaya. Kegiatan bertema “Aksi Nyata Menjaga Laut Bersama” ini merupakan bagian dari program Kementerian Sosial dan Politik BEM UHT Tahun 2026, sebagai wujud komitmen mahasiswa dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Kegiatan tersebut diikuti langsung oleh Presiden BEM UHT Raihan Asfi Priadi, Wakil Presiden BEM Mochammad Dewa Surya, serta Menteri Sosial dan Politik BEM UHT Divana Meisya Putri. Turut hadir Kepala BKKA Budi Priyono, S.Sos., M.M. beserta jajaran, serta perwakilan Eco Wisata Mangrove Wonorejo.

Dalam kegiatan ini, peserta menanam mangrove jenis Rhizophora, salah satu spesies mangrove utama yang berperan penting dalam menjaga stabilitas ekosistem pesisir. Mangrove Rhizophora memiliki ciri khas berupa akar tunjang (stilt root) yang tumbuh mencuat dari batang dan cabang bagian bawah, kemudian menghujam ke dalam tanah. Struktur perakaran ini mampu meredam gelombang, menahan abrasi, serta memperkuat garis pantai.

Di Indonesia, mangrove Rhizophora banyak dijumpai dalam tiga jenis utama, yakni Rhizophora Apiculata, Rhizophora Mucronata, dan Rhizophora Stylosa. Ketiganya tumbuh subur di wilayah pesisir nusantara dan menjadi kekayaan hayati yang tidak dimiliki secara lengkap oleh banyak negara lain.

Ketua Pelaksana HAPAL, Syamim Firdausi, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan serta menjadi langkah awal dalam menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan. Menurutnya, penanaman mangrove bertujuan meningkatkan kualitas dan fungsi ekosistem pesisir, mengoptimalkan keseimbangan lingkungan, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian hutan mangrove, sekaligus meminimalisir potensi bencana alam yang kerap terjadi di wilayah pesisir.

Sementara itu, Kepala BKKA Budi Priyono, S.Sos., M.M. menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah kecil namun strategis yang diinisiasi oleh BEM bersama BKKA. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan dalam skala yang lebih besar dengan melibatkan Kodaeral V. Ia juga menilai seluruh aktivitas BEM UHT bersifat positif dan selalu dipaparkan kepada Rektor serta jajaran pimpinan universitas. Menurutnya, pola pembinaan kemahasiswaan saat ini tidak lagi bersifat top-down, melainkan bottom-up, di mana gagasan dan idealisme mahasiswa melalui BEM menjadi motor utama pergerakan dengan demikian idealisme mahasiswa akan terlihat.

Perwakilan Eco Wisata Mangrove Wonorejo, Bapak Fatah, mengapresiasi konsistensi BEM Universitas Hang Tuah yang tercatat telah tiga kali melaksanakan kegiatan penanaman mangrove. Ia menekankan bahwa menanam mangrove bukan sekadar menanam pohon, melainkan menanam harapan bagi masa depan lingkungan. Mengingat ancaman bencana tsunami di wilayah pesisir yang sangat besar, keberadaan mangrove menjadi benteng alami yang sangat vital.

Bapak Fatah juga mengingatkan pelajaran penting dari bencana tsunami Aceh tahun 2004, di mana sekitar 70 persen kawasan yang masih bertahan dari terjangan gelombang besar adalah hutan mangrove. Hal ini disebabkan oleh karakter akar tunjang mangrove, khususnya jenis Rhizophora mucronata, yang mampu menembus tanah hingga kedalaman 200m dan meredam kekuatan gelombang.

Lebih lanjut disampaikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman mangrove terbesar di dunia. Dengan kondisi alam yang sangat mendukung, Indonesia menjadi “surga mangrove” karena hampir semua jenis mangrove dapat tumbuh dengan baik. Upaya rehabilitasi mangrove nasional bahkan mendapat dukungan dari ASEAN dan Uni Eropa, dengan kebutuhan penanaman sekitar 1,8 juta pohon mangrove per tahun. Kota Surabaya sendiri dinilai sebagai salah satu percontohan dalam pengelolaan dan pelestarian mangrove bagi daerah lain.

Melalui kegiatan Hang Tuah Peduli Alam (HAPAL) 2026 ini, BEM Universitas Hang Tuah bersama BKKA menegaskan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga aktif dalam aksi nyata menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem pesisir Indonesia.(**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *