Hulu Sungai Utara – Tuan Guru Haji (TGH) Abdurrasyid dikenal sebagai pendiri Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) di Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan. Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam pembaharu yang memadukan tradisi keilmuan klasik dengan modern.
Abdurrasyid juga melahirkan kader-kader ulama, guru, dan pemimpin yang berpengaruh hingga ke berbagai wilayah Nusantara. Simak profil TGH Abdurrasyid berdasarkan penelitian di situs Universitas Airlangga dan UIN Antasari.
Latar Belakang dan Pendidikan
Abdurrasyid lahir pada tahun 1884 di Desa Pekapuran, Amuntai, HSU dari keluarga petani sederhana yang taat beragama. Ayahnya bernama Haji Ramli, dikenal dengan panggilan Haji Iram, dan ibunya bernama Khadijah. Sejak kecil ia sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa, bahkan pada usia tujuh tahun telah berhasil menamatkan Al-Qur’an.
Latar Belakang dan Pendidikan
Abdurrasyid lahir pada tahun 1884 di Desa Pekapuran, Amuntai, HSU dari keluarga petani sederhana yang taat beragama. Ayahnya bernama Haji Ramli, dikenal dengan panggilan Haji Iram, dan ibunya bernama Khadijah. Sejak kecil ia sudah menunjukkan kecerdasan luar biasa, bahkan pada usia tujuh tahun telah berhasil menamatkan Al-Qur’an.
Perintis Pendidikan Islam Modern
Sekembalinya dari Mesir, Abdurrasyid mendirikan Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (RAKHA) di Amuntai. pada 12 Rabi’ul Awal 1341 H atau 13 Oktober 1922 M. Nama Rasyidiyah diambil dari namanya sendiri, sementara Khalidiyah berasal dari tokoh pembaharu Islam, Idham Khalid.
Ia memulai dengan membuka pengajian di rumah menggunakan sistem halaqah, di mana santri duduk melingkar mengelilingi guru. Namun karena jumlah santri yang terus bertambah, pengajian kemudian dipindahkan ke mushola di tepi Sungai Tabalong.
Di sinilah Abdurrasyid memperkenalkan sistem klasikal modern dengan meja, kursi, dan papan tulis. Ini merupakan suatu hal yang sangat baru di Kalimantan pada masa itu.
Langkah ini sempat dicurigai oleh pemerintah Hindia Belanda, tetapi lambat laun mendapat simpati masyarakat. Dukungan mengalir, dan jumlah santri terus meningkat.
Pada 1924 ia mendirikan langgar bertingkat dua, lalu pada tahun 1926 membangun gedung sekolah berbentuk “U” dengan enam lokal. Puncaknya, pada tahun 1928 ia memberi nama resmi Arabische School, dengan tujuan mencetak kader pendidik, guru agama, muballigh, dan pemimpin masyarakat.
Selama lima tahun pertama, Abdurrasyid mengajar sendiri seluruh kelas dengan sistem estafet, yakni santri senior diberi tugas mengajar kelas di bawahnya. Karena peran sentralnya, ia dijuluki Mu’allim Wahid atau guru utama.
Perkembangan Arabische School tidak lepas dari dukungan masyarakat Banjar yang memiliki tradisi kuat dalam pendidikan dan ibadah haji. Banyak dermawan mewakafkan harta untuk pembangunan sekolah.
Pergantian Kepemimpinan dan Akhir Hayat
Setelah lebih dari lima tahun memimpin Arabische School, pada tanggal 22 Agustus 1931 Abdurrasyid menyerahkan kepemimpinan pesantren kepada KH Juhri Sulaiman, seorang alumni Al-Azhar.
Namun, ia tidak berhenti berkiprah. Masyarakat Kandangan memintanya memimpin Madrasah Al Wathaniyah, dan dari sinilah lahir berbagai lembaga pendidikan Islam modern lainnya di Kalimantan Selatan.
Menjelang akhir 1933, kesehatan Abdurrasyid mulai menurun. Pada bulan Januari 1934 ia kembali ke Amuntai dalam keadaan sakit
Tepat pada tanggal 4 Februari 1934 atau 19 Syawal 1353 H, beliau wafat di hadapan keluarga dan murid-muridnya. Jenazahnya dimakamkan di samping rumahnya di Desa Pekapuran, Amuntai.
Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (RAKHA) hingga kini tetap berdiri kokoh sebagai pusat pendidikan Islam. Ia dikenang sebagai pelopor modernisasi pendidikan Islam di Kalimantan Selatan, yang berani mengubah sistem halaqah tradisional menjadi sistem klasikal modern.(Bai/Aau)





